LAUT TERBELAH DI KOREA SELATAN

Suatu kejadian alam yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan kisah Mozes (Musa),

Ini adalah penomena alam yang paling mengagumkam di Korea Selatan yang dinamai "Moses Miracle", dua kali setahun terjadi air surut, terbuka suatu alur daratan sepanjang 2.8 kilometer dan lebar 40 meter yang menghubungkan pulau Jindo dan Modo selama beberapa jam.



Suatu festival diadakan untuk mengingatkan kejadian alam dan dihadiri orang-orang dari segala penjuru dunia ini. Bagaimanapun kejadian alam ini belum begitu diketahui sampai tahun 1975, ketika Mr. Pierre Randi duta besar Perancis untuk negara Korea berkunjung kemari dan mempublikasikannya di surat kabar Perancis.

Ada Kilatan Api Sebelum Kemunculan Crop Circle Magelang

foto 

Crop Circle di Desa Banyusari, Kecamatan Tegalrejo, Magelang. TEMPO/Anang Zakaria
TEMPO Interaktif, Magelang - Muhammad Suntoro, 50 tahun, warga Dusun Gendol, Desa Klopo, Kecamatan Tegalrejo, Magelang, mengaku menyaksikan kilatan api dari lokasi ditemukannya crop circle Magelang. "Saya kira Merapi mau erupsi lagi," kata dia ditemui di lokasi, Senin (31/1) pagi.

Lokasi crop circle di Magelang berada di Dusun Kumbangan, Desa Banyusari, Kecamatan Tegalrejo, Magelang. Letaknya berada di sebelah selatan tempat tinggal Suntoro. "Sekitar 1 kilometer jaraknya," kata dia.

Menurut dia, kilatan api itu muncul di langit di atas lokasi penemuan pada pukul 18.00 WIB, Sabtu (29/1) sore. Kilatan itu, lanjut dia, cukup terang terlihat. Namun dia tak mengira benda apa yang menjadi sumber cahaya.

Lokasi crop circle itu tepat berada di depan Pesantren Hidayatul Muhtadiin dan ditemukan sekitar pukul 07.00 oleh seorang santri Ponpes itu. Temuan ini langsung menyebar ke santri Ponpes itu dan warga sekitar. Mereka pun akhirnya berbondong-bondong menyaksikan crop circle yang ada di persawahan itu.

Menurut Kepala Desa Banyusari, Siswanto, di crop circle itu membentuk lima lingkaran yang ada di areal persawahan milik KH Yasin, 58 tahun, pemimpin Pondok Pesantren Hidayatul Muhtadiu2019in. "Kelimanya terpisah-pisah dengan jarak antara 1 hingga 3 meter," kata Siswanto, kemarin.

Minggu lalu (23/1) crop circle juga muncul di persawahan di Dusun Krasakan, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lingkaran itu berdiameter sekitar 25-30 meter. Ornamen tengah terdapat lingkaran kecil, bentuk segitiga lalu lingkaran besar hingga lingkaran paling besar.

Beberapa hari setelah itu, lingkaran serupa juga muncul di Bantul, Yogyakarta. Menurut LAPAN, dua crop circle yang muncul itu buatan manusia, bukan UFO yang melakukan pendaratan di bumi.

Sebelum Crop Circle Ditemukan, Angin Bertiup Kencang Tengah Malam

Crop Circle di Desa Banyusari, Kecamatan Tegalrejo, Magelang. TEMPO/Anang Zakaria
TEMPO Interaktif, Magelang - Terdapat fenomena alam tak biasa sebelum ditemukan crop circle di lahan milik KH. Muhammad Yasin di Dusun Kumbangan, Desa Banyusari, Kecamatan Tegalrejo, Magelang. Seorang saksi mata menyebutkan angin bertiup sangat kencang hingga pohon-pohon di sekitar lokasi meliuk.

"Kencang luar biasa anginnya," kata Irfanudin, 24 tahun, santri di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin asuhan KH. Muhammad Yasin, saksi mata peristiwa itu, Senin (31/1) pagi. "Tidak biasanya seperti itu," lanjut dia.

Menurut dia, fenomena alam itu terjadi sekitar tengah malam, Sabtu (29/1) malam. Artinya, hanya semalam sebelum crop circle di persawahan itu ditemukan Muhaimin, seorang santri lain, Minggu (30/1) pagi.

Saat itu, Ifran - demikian nama panggilan santri yang telah belajar di pondok itu sejak 2002 lalu - sedang memeriksa kolam lele milik pesantren yang berada tak jauh dari lokasi penemuan.

Dengan luas sekitar 300 meter persegi, sawah yang menjadi lokasi penemuan itu hanya berjarak sekitar 200 meter dari pesantren. Sementara itu, untuk sampai ke lokasi, bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari jalan raya desa melewati pematang sejauh 100 meter.

Dia mengaku ketakutan melihat tiupan angin kencang. Hampir tiap malam Irfan rutin memeriksa kondisi ikan lele di kolam itu. Namun baru kali ini dia menyaksikan angin bertiup kencang di persawahan. Setelah itu, dia pun kembali ke kamar untuk istirahat hingga pagi harinya tersiar kabar penemuan crop circle di lokasi.

Persawahan di sekitar lokasi memang milik KH. Muhammad Yasin. Selain ditanami padi, beberapa lahan juga ditanami cabai dan digunakan sebagai kolam ikan. Sehari-hari, kolam dan sawah itu dipelihara oleh para santri pesantren.

30 Mahasiswa UGM Diperiksa Karena Crop Circle

Fenomena Crop Circle muncul di persawahan di dusun Krasakan, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (23/1). Menurut komunitas penggiat UFO UFONESIA, Crop Circle adalah sebuah pola geometris yang dibentuk oleh pesawat luar angkasa dan dilakukan tanpa mendaratkannya. Foto: Natsir Kanthil
TEMPO Interaktif, YOGYAKARTA - Fakultas Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) telah memeriksa 30 dari 60 total mahasiswa angkatan 2008 untuk memeriksa keterkaitan mereka dengan crop circle. Hanya saja hasilnya nihil.

"Dari 30 orang yang sudah kami periksa tidak ada yang mengaku," kata Dekan FMIPA UGM, Chairil Anwar kepada Tempo, Senin, (31/1).

Pemeriksaan ini menyusul kabar situs StudentMagz.com membuat crop circle atau lingkaran berpola simetris di persawahan yang mengatakan bahwa mahasiswa UGM pembuatnya. Pihak fakultas sudah menggunakan pemannggilan puluhan mahasiswa FMIPA dan komunikasi dengan ketua himpunan mahasiswa jurusan matematika. Hanya saja hasilnya tetap nihil. "Tidak ada yang mau mengaku," katanya.

Padahal UGM menilai pembuat crop circle itu sebagai kreativitas yang patut mendapat apresiasi. Soalnya, kreativitas ini telah menggabungkan ilmu pengetahuan matematika dan seni. "Ini kreatifitas yang orang membuat orang menikmati hasilnya," kata Chairil.

Menurut dia, mata Fakultas Matematika mengajarkan studi geometri Frakhtal yang mengajarkan soal bentuk-bentuk simetri dan kubus.

Hanya saja media alam yang menjadi obyek untuk mempraktekkan teori di kampus. UGM tak sependapat jika pembuatan crop ini dikaitkan dengan tindakan kriminal. Karena itulah dioa menduga tidak ada yang mau mengakui perbuatan ini.


Memang, padi yang rusak itu merugikan petani. Hanya saja, itu bisa dibicarakan. "Jika memang mahasiwa kami yang melakukan kami siap urun rembug mengganti rugi padi itu," katanya.


Sebagai institusi pendidikan, UGM menjadikan hukuman sebagai jalan terakhir. Dia juga berharap polisi melalkukan cara persuasif.


Seperti diberitakan, StudentMagz.com melansir kabar seorang mahasiswa yang mengaku sebagai pembuat crop circle tanpa identitas. Dalam situs itu dikabarkan pembuat crop circle adalah enam orang mahasiswa dari FMIPA angkatan 2008 UGM dan Fakultas pertanianM Saat mengisi waktu libur, terbesit ide membuat crop circle di sawah dengan alasan mempraktikan ilmu matematika terapan dan kemampuan desain.

Pola Crop Circle Bantul Menyisakan Jejak

Crop circle yang baru ditemukan, di Wanujoyo, Piyungan, Bantul,Yogyakarta, (25/1). ANTARA/ Wahyu Putro
Beta UFO, komunitas pengamat Unidentified Flying Object (UFO) Indonesia, terjun langsung ke dua lokasi crop circle di sebuah sawah di Sleman dan Bantul. Di Bantul, meski padinya telah di panen mereka menemukan hal menarik. 

"Pola crop circle masih kelihatan jelas, ada jejaknya di tanah," kata pendiri Beta UFO, Nur Agustinus ketika dihubungi, Senin (31/1). Menurut Nur, warna tanah antara bekas padi yang rebah dan tidak sangat mencolok. "Warna yang bekas rebah lebih cokelat," ujarnya yang datang ke Sleman dan Bantul pekan lalu. 

Setelah crop circle di Berbah, Sleman Yogyakarta. Muncul crop circle lainnya di Dusun Wanujoyo Kidul, Desa Srimartani Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul. Lingkaran di Bantul ini mirip dengan lingkaran yang ada di Sleman hanya kurang rapi dan ukurannya lebih kecil.

"Saya sedang mencari rumput, saya lihat banyak padi yang roboh membentuk lingkaran," kata Harjono, penemu pertama lingkaran itu, Selasa pekan lalu.
Diduga, lingkaran itu sudah terbentuk lebih dari lima hari. Sebab, padi yang roboh sudah mulai berdiri. Padi yang roboh itu juga tidak patah. 

Bentuk lingkaran sangat mirip dengan lingkaran yang ada di Sleman. Hanya saja lingkaran besar yang terbentuk hanya satu. Sedangkan lingkaran kecil di tengah mirip dan di sekelilingnya ada segitiga yang mengelilingi lingkaran dalam lingkaran besar. Diameter lingkaran sekitar 25 meter. 

Selain menemukan jejak pola crop circle, Beta UFO juga mendapatkan kesaksian warga soal bunyi berdenging di malam hari. "Bunyinya nging.. nging.. tapi penduduk tidak melihat hal yang aneh," kata Nur Agustinus. 

Nur Agustinus yakin crop circle di Bantul bukan buatan manusia berdasarkan kesaksian warga dan ciri-ciri di lokasi. Nur mendatangi lokasi dan mengumpulkan data ini bersama tujuh anggota Beta UFO.