MAKNA EMPAT PENEMUAN BESAR CHINA KUNO

Penemuan kompas merupakan semacam perwujudan dan pemahaman kearif-bijaksanaan hubungan timbal balik antara alam semesta dan manusia zaman kuno setelah  berkultivasi dan mencapai suatu taraf tertentu. (INTERNET)
Penemuan kompas merupakan semacam perwujudan dan pemahaman kearif-bijaksanaan hubungan timbal balik antara alam semesta dan manusia zaman kuno setelah berkultivasi dan mencapai suatu taraf tertentu. (INTERNET)
Membicarakan teknik pembuatan kertas, percetakan, kompas dan mesiu pada zaman China kuno, keempat penemuan tersebut sungguh-sungguh patut dibanggakan.
Bagi perkembangan peradaban umat manusia secara keseluruhan, keempat penemuan tersebut telah berperan sangat besar, berpengaruh begitu mendalam terhadap sejarah yang sama sekali tidak bisa digantikan atau dilampaui oleh peradaban lainnya. Berkat keempat penemuan itu, China tampil ke forum dunia, sekaligus menjadi pusat perhatian mancanegara. 
Menengok kembali sejarah, barangkali berkat kemurahan hati sang Pencipta yang memilih Tanah Dewata atau barangkali berbagai kesempatan dan takdir pertemuan yang “kebetulan” sehingga keempat penemuan besar itu selamanya tertoreh di kitab sejarah China dan sejarah dunia.
Keempat maha penemuan tersebut, bobot muatannya nyaris merupakan urat nadi perkembangan umat manusia secara keseluruhan, misinya ialah kebudayaan pewarisan Dewata dari Tanah Dewata, terutama kebudayaan kultivasi (metode penempaan dan peningkatan pengendalian emosional dan spiritual diri secara terus menerus sampai tercapai kesempurnaan) dapat disebarkan ke seluruh bangsa dunia. Maka itu, dari makna dan sudut pandang tertentu, bukan sembarang bangsa diperbolehkan menciptakan keempat penemuan tersebut. 
Di antara keempat penemuan itu, asal muasal teknik pembuatan kertas dan teknik percetakan dilatar-belakangi keberadaan agama Buddha yang kala itu mulai populer dan tersebar luas di China, sehingga membutuhkan kertas dalam jumlah besar guna percetakan sutera (kitab) Buddha.
Setelah kedua penemuan tersebut diterapkan dalam masyarakat, di dalam sejarah ribuan tahun umat manusia, telah tercatat dan tercetak kisah sejumlah besar koleksi kitab-kitab pusaka yang berharga. Dengan demikian peradaban Tionghoa memperoleh pewarisan ortodoks yang sangat sistematis, sekaligus kitab suci dan anekdot berharga dari para tokoh aliran Buddha, Khonghucu dan Dao (Taoisme).

Mesiu berasal dari teknik alkimia aliran Taoisme. (INTERNET)
Meski mengalami api peperangan sejarah cukup lama, namun pada posisi khusus di dalam temaram kehidupan mereka dapat tersimpan dengan baik dan relatif utuh, sehingga mencerahkan manusia setiap zaman agar melaksanakan kebajikan dan mengutamakan akhlak serta berpengaruh hingga kini.
Mesiu bermula dari alkimia aliran Taoisme, ia juga dipergunakan di dalam pengobatan tradisional China. Seiring dengan perkembangan sejarah, lambat laun ia berperan utama di dalam teknik kemiliteran.
Menurut dogma kalangan agama Barat dan Timur serta dunia kultivasi, kehidupan manusia di dunia senantiasa membawa serta karma (dosa). Supaya jiwa umat manusia terhindar dari pelapukan, sang Pencipta secara berkala melakukan pengaturan sejumlah perang yang mengerikan, untuk memusnahkan karma manusia.
Dalam kancah peperangan, mesiu berperan besar dalam membunuh dan melukai banyak orang.    
Hikmah tersebut mengingatkan kepada umat manusia, baik bagi seorang manusia maupun sebuah bangsa, hanya melalui kultivasi dan berperilaku bajiklah baru dapat memperkokoh landasan pokok nurani. Begitu kehilangan kekangan moralitas dan ilmu hati, sehingga rusak sampai ke taraf tak tertolong lagi, dengan terpaksa sang Pencipta mengambil cara yang dipandang perlu untuk memusnahkan karma makhluk hidup, serta menghukum politik kekerasan penguasa lalim.
Eksistensi mesiu juga mempunyai hikmah mengingatkan manusia di dunia agar dalam segala hal memuliakan akhlak, mencegah kekerasan militer dan mengubahnya menjadi kesejahteraan, melaksanakan politik penuh kebajikan, mengangkat pejabat berbudi luhur, barulah berjalan pada jalur Dao (jalan spiritual menuju kesempurnaan) sang pemimpin yang sesungguhnya.
Munculnya kompas, merupakan semacam perwujudan dan pemahaman pencerahan spiritualitas dari kemanunggalan antara manusia dan alam semesta oleh para kultivator zaman kuno setelah mencapai tingkatan tertentu. Pada zaman dahulu, kompas di China juga disebut sebagai  Si Nan (司南 / penuntun jitu arah selatan). Kompas primitif memiliki kaitan erat dengan batu magnit.

Teknik percetakan. (INTERNET)
Para kultivator zaman dahulu beranggapan, di dalam alam semesta yang maha luas ini, di dalam ruang/dimensi dan waktu yang berlainan, dipengaruhi medan energi dari semacam magnet (mandarin: (磁) kala itu disebut pula (慈) belas kasih). Oleh karena itu badan langit jagad raya yang tak terhingga ini di dalam  ruang / dimensi waktu yang tak berbentuk, berkat peran medan energi magnet tersebut, dari tak berbentuk menjadi berbentuk, demikian pula bintang-bintang yang tak terhitung banyaknya bisa tetap berada di posisi masing-masing, segala sesuatunya berjalan dengan tertib dan teratur. 
Di dalam kebudayaan China kuno, arah selatan adalah posisi yang paling dimuliakan diantara empat arah mata    angin. Itulah sebabnya sejumlah bangunan puri dan istana megah, kuil dan wihara agung, kebanyakan berkiblat ke selatan. Kemungkinan juga merupakan sebuah pertanda, baik di dalam kultivasi (kerohanian) maupun memerintah (keduniawian), agar tidak kebingungan dan jangan sampai kehilangan arah.

PENEMUAN ILMIAH TERBESAR 2010

Gunung Ararat di wilayah timur Turki yang tertutup salju putih abadi, lokasi penemuan bahtera Nabi Nuh seperti yang tertulis di Alkitab.  (AFP/GETTY IMAGES)
Gunung Ararat di wilayah timur Turki yang tertutup salju putih abadi, lokasi penemuan bahtera Nabi Nuh seperti yang tertulis di Alkitab. (AFP/GETTY IMAGES)
Menurut majalah National Geographic AS, edisi 30 November 2010, menilai dan memilih “Penemuan Ilmiah Terbesar 2010”, yang terdiri atas: gempa Chili mengubah sumbu bumi dan panjang panjang waktu, informasi titik terang yang melampaui struktur alam semesta, kadal Australia yang beranak alam semesta di dalam setiap Lubang hitam (black hole), hewan langka kelelawar Yoda, lokasi temuan bahtera Nuh di Turki, hewan aneh ikan kecapi, mengungkap misteri penulis “Kitab Kuno Laut Mati”, dan ikan bertangan panjang.
Ikan bertangan panjang
Mei tahun ini, diakui 9 jenis ikan temuan baru, salah satunya ikan bertangan panjang berwarna merah muda, yang menggunakan siripnya yang menyerupai tangan bergerak di dasar laut dan tidak berenang seperti ikan umumnya.
Para ilmuwan menganalisa tulang belakangnya, jumlah siripnya, ada tidaknya sisik dan faktor-faktor temuan baru lainnya untuk memastikan jenis ikan. Akan tetapi, dari semua jenis ikan yang telah diketahui sebelumnya, penelitian terhadap jenis ikan masih belum menyeluruh, masih sedikit sekali hal yang diketahui tentang habitat dan kebiasaan hidupnya.
Penulis Kitab Kuno Laut Mati
Baru-baru ini ilmuwan berhasil memecahkan sandi rahasia yang tertulis di atas sebuah cangkir misterius, dan juga berhasil menemukan temuan arkeologi lainnya, yang mungkin dapat membantu memecahkan misteri di dalam Alkitab: siapa sebenarnya yang menulis “Kitab Kuno Laut Mati”?
Isi dari “Kitab Kuno Laut Mati” sendiri dapat memberikan bukti yang mengagumkan bagi tingkat kepercayaan umat manusia terhadap isi Alkitab, yang meliputi literatur isi Alkitab yang paling kuno hingga saat ini.
Dari keterangan yang baru saja ditemukan itu menandakan bahwa “Kitab Kuno Laut Mati” mungkin merupakan kekayaan sastra yang disembunyikan di masa perang, bahkan mungkin merupakan “mustika berharga dari Aula Suci Yerusalem”. Menurut catatan Alkitab, di Aula Suci Yerusalem inilah Tabut Perjanjian disimpan.

Ikan kecapi, makhluk aneh yang ditemukan di sekitar perairan kepulauan Greenland.  (GREENLAND INSTITUTE of NATURAL RESOURCES)
Ikan Kecapi
Seekor ikan kecapi yang dijuluki sebagai “sang pemikir berkepala panjang” adalah sejenis makhluk aneh yang ditemukan di perairan sekitar Kepulauan Greenland. Ikan ini terlihat seperti makhluk angkasa luar dalam film fiksi.
Sebenarnya ikan kecapi ini tidak menakutkan seperti kelihatannya, ia dapat tumbuh hingga 6,7 inci panjangnya (17 cm), yang merupakan salah satu dari 38 jenis ikan yang baru ditemukan ilmuwan di perairan Pulau Greenland. Menurut hasil riset yang dilansir Februari 2010, di antara temuan berbagai jenis ikan yang ada, 10 di antaranya merupakan temuan kali pertama.
Situs sejarah Bahtera Nuh
Sebuah tim eksplorasi berlatar belakang Kristiani aliran Evangelis menyebutkan, pada April 2010, di wilayah timur Turki tepatnya di sekitar Gunung Ararat, berhasil ditemukan bangkai kapal yang berasal dari bahtera Nabi Nuh.
Penelitian mendapati bahwa usia bangkai bahtera ini dapat ditelusuri hingga 4.800 tahun silam, atau di sekitar zaman eksisnya bahtera Nuh seperti yang tertuang dalam Alkitab “Perjanjian Baru”.
Akan tetapi para ahli arkeologi dan sejarawan berpendapat bahwa temuan ini sama halnya dengan temuan-temuan sebelumnya, tingkat kredibilitasnya tidak tinggi.

Tokoh Yoda dalam film fiksi “Star Wars”.  (AFP)
Kelelawar Yoda
Organisasi pelindung lingkungan hidup internasional “Conservation International” Oktober lalu mengumumkan, pada 2009 lalu, dua tim eksplorasi yang dikirim ke Pegunungan Nagorno dan Pegunungan Muller di Papua Nugini telah berhasil menemukan sekitar 200 jenis spesies makhluk baru.
Salah satu di antaranya adalah kelelawar pemakan buah berhidung silinder. Rupa makhluk ini sangat mudah membuat orang yang melihatnya teringat pada tokoh Yoda sang Jedi Master dalam film fiksi “Star Wars”.
Yang membedakannya dengan kelelawar pemakan buah lainnya, makhluk ini selalu membawa buah yang berhasil dipetiknya ke suatu tempat yang jauh dari pohon tumbuhnya buah tersebut, biji-bijian atau bibit yang tidak tercerna olehnya tersebar kemana-mana, sehingga sangat bermanfaat bagi regenerasi hutan, peremajaan habitat, serta menjaga ekosistem dan lain sebagainya.
Di antara hasil temuan tim eksplorasi ini juga terdapat 24 jenis spesies baru katak, 2 jenis hewan mamalia baru, dan sekitar 100 jenis spesies serangga baru. Pegunungan terpencil di Papua Nugini menjadi gudang mustika keaneka ragaman flora dan fauna, dan hanya dapat ditempuh dengan kapal, pesawat, atau berjalan kaki.
Beberapa tahun terakhir ini para ilmuwan berhasil menemukan spesies makhluk baru di tempat itu.
Setiap Black Hole ada alam semesta
Dari semua lubang hitam (black hole) yang berhasil ditemukan di alam semesta hingga saat ini - mulai dari berukuran kecil sampai super besar - mungkin merupakan pintu masuk menuju ke dunia lain.
Menurut hasil riset mencengangkan yang diumumkan musim semi lalu, lubang hitam sebenarnya adalah jalan masuk antar alam semesta - sejenis Wormhole (lubang cacing). Teorinya adalah substansi yang diserap oleh lubang hitam tidak menjadi satu titik seperti yang diperkirakan sebelumnya, melainkan memunculkan sebuah white hole di sisi lubang hitam yang lain.
Dunia Amazon yang “hilang”
Dalam sebuah hasil riset yang dilansir Januari 2010, para peneliti menemukan ratusan struktur bangunan bentuk lingkaran, persegi, dan bentuk geometris lainnya yang tertutup oleh hutan. Ini menandakan di wilayah Amazon pernah eksis suatu kelompok masyarakat kuno yang berjaya di masanya.
Dari foto satelit yang diambil sejak 1999 menunjukkan, sekitar aliran Sungai Amazon terdapat lebih dari 200 bidang geometris yang berasal dari suatu proyek konstruksi yang membentang sepanjang 155 mil (sekitar 250 km). Menurut perkiraan terbaru para peneliti, terdapat sebanyak sekitar 10 kali lipat struktur bangunan yang ada dari yang telah ditemukan sekarang yang hingga kini masih tertutup rerimbunan hutan Amazon.
Kadal Australia yang beranak
Di Australia berhasil ditemukan sejenis kadal yang beranak. Kadal berjari tiga dan berperut kuning ini biasanya hidup di daerah pesisir pantai New South Wales yang hangat dengan cara menetaskan telur. Akan tetapi di antara sekelompok kadal jenis ini, ada sebagian yang habitatnya di gunung yang lebih tinggi dan lebih dingin di New South Wales yang hampir seluruhnya berkembang biak dengan cara “beranak” bukan bertelur.
Petunjuk untuk melampaui struktur alam semesta
Sebuah hasil penelitian Maret 2010 menunjukkan, bahwa terjadinya “arus bawah” bukan suatu kebetulan belaka, hal ini semakin memperkuat bukti dari “struktur” alam semesta yang belum kita ketahui dan belum kita temukan.
Pada 2008, laporan para peneliti menyebutkan, mereka berhasil menemukan ratusan tata surya bergerak ke suatu arah yang sama dengan kecepatan 2,2 juta mil per jam (sekitar 3,6 juta km per jam). Gerak yang misterius seperti ini tidak dapat dijelaskan dengan teori distribusi isi alam semesta yang ada saat ini. Oleh karenanya para peneliti pun mengusung suatu teori yang sangat kontroversi, yakni kelompok tata surya itu digerakkan oleh kekuatan substansi di luar alam semesta ini.
Hingga saat ini suatu tim riset lainnya berhasil menemukan bahwa tingkat kedalaman dari perpanjangan “arus bawah” ke arah luar alam semesta bahkan jauh melampaui perkiraan mereka sebelumnya: perpanjangan ke arah luar jika dihitung dari planet bumi sedikitnya adalah 2,5 miliar tahun cahaya.
Gempa Chili
Dinas Antariksa AS (NASA) menyebutkan bahwa gempa begitu besar dan kuat di Chili yang terjadi Februari 2010 lalu, dengan kekuatan sebesar 8,8 SR mungkin telah menggeser sumbu bumi, dan memperpendek waktu dalam satu hari.
Geologis Richard Gross, mensimulasikan dampak yang ditimbulkan akibat gempa Chili ini dengan menggunakan model yang direkayasa komputer. Hasilnya menunjukkan, karena telah mempercepat gerak rotasi bumi, gempa Chili tersebut mungkin telah memperpendek waktu satu hari sebesar 1,26 mikro detik (1 mikro detik = satu per sejuta detik).

DITEMUKAN ORGANISME HIDUP BERUSIA 34.000 TAHUN DI DALAM KRISTAL GARAM

Kristal garam yang ditemukan mengandung unsur sodium klorida, yang diambil dari kolam bekas laut yang telah menguap di kawasan Guerero Negro, Baja California Sur State, Mexico pada 26 Januari 2010 lalu. Baru-baru ini ilmuwan kembali menemukan bakteri kuno yang masih hidup di dalam kristal garam di kawasan Taman Nasional Death Valley, California. (OMAR TORRES/AFP/GETTY IMAGES)
Kristal garam yang ditemukan mengandung unsur sodium klorida, yang diambil dari kolam bekas laut yang telah menguap di kawasan Guerero Negro, Baja California Sur State, Mexico pada 26 Januari 2010 lalu. Baru-baru ini ilmuwan kembali menemukan bakteri kuno yang masih hidup di dalam kristal garam di kawasan Taman Nasional Death Valley, California. (OMAR TORRES/AFP/GETTY IMAGES)
Para ilmuwan yang sedang melakukan penelitian terhadap  masalah iklim di kawasan Taman Nasional Death Valley, Kalifornia, baru-baru ini, berhasil menemukan sejumlah organisme yang masih hidup di dalam sebuah kristal garam kuno, berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam jurnal Geological Society of America (GSA).
“Kristal garam berusia 34.000 ribu tahun itu seakan telah ‘menyegel secara permanen’ organisme-organisme di dalamnya, bagaikan sebuah kapsul waktu kecil,” ujar Tim Lowenstien, profesor dari Departemen Geologi di Universitas Binghamton kepada OurAmazingPlanet.
Sedangkan Brian Schubert, salah seorang penemu organisme pra-sejarah turut mengatakan, “Hal ini merupakan kejutan besar bagi saya.”
“Mereka hidup, tetapi tidak menggunakan energi mereka untuk berenang, dan mereka juga tidak berkembang biak. Mereka tidak melakukan hal apapun selain bertahan hidup,” tambah Schubert.
Selain sejumlah organisme tersebut, juga ditemukan ganggang kuno Dunaliella yang juga hidup di dalam kristal garam. Menurut salah satu artikel dari Geological Society, ganggang tersebut berperan sebagai sumber makanan bagi organisme-organisme yang hidup di dalam kristal garam.
Dalam artikel tersebut, sang penulis juga mengatakan bahwa pada setengah abad terakhir ini terdapat banyak klaim tentang kemampuan hidup jangka panjang dari prokaryotes, atau organisme yang tidak mempunyai banyak sel nukleus. Akan tetapi para peneliti sepakat bahwa kebanyakan dari klaim tersebut adalah “kontroversial.”
Schubert berpendapat bahwa hal selanjutnya yang harus dilakukan oleh para ilmuwan adalah menyelidiki bagaimana cara organisme-organisme tersebut mampu bertahan hidup selama ribuan tahun.
Menurut kesimpulan para peneliti, pemahaman yang lebih mendalam terhadap kemampuan hidup jangka panjang dari prokaryotes di dalam media cairan, akan sangat mendukung berbagai studi yang mempelajari tentang kehidupan mikroba, baik yang berada di bumi maupun di berbagai tempat lainnya di dalam tata surya.

TEMUAN NASA: BULAN PUNYA AIR MELIMPAH

Menurut laporan analisa data NASA yang dipublikasikan (22/10), air di permukaan bulan jauh lebih banyak daripada yang dibayangkan selama ini. Temuan ini mungkin bisa memotivasi pendirian pangkalan berawak di atas permukaan bulan.
Sesuai reportase The Wall Street Journal, temuan tersebut berawal dari sebuah percobaan yang berani pada tahun lalu. NASA menggunakan sebuah roket dengan bahan bakar yang terpakai habis, dengan kecepatan 5.600 mil/jam menghunjam sebuah kawah bulan. Kemudian menggunakan sepasang satelit menganalisa pecahan yang beterbangan.
Akhirnya ditemukan di dalam kawah tersebut air yang membeku menjadi es, selain itu terdapat pula Hidrogen, amonia, metana, merkuri, natrium, perak dan sumber daya lainnya.
November 2009, NASA  mengumumkan bahwa di atas bulan terdapat air. Penganalisaan sekarang lebih mendetail terhadap data-data yang ditemukan. Jumlah air di atas permukaan bulan jauh lebih banyak daripada yang diperkirakan sebelumnya, kurang lebih 2 kali lipat dari cadangan air gurun Sahara. 6 lembar laporan penelitian yang akan dipublikasikan di majalah Science itu berdasarkan data analisa NASA. 
Selama kurun waktu panjang, menemukan air di permukaan bulan senantiasa merupakan impian umat manusia, karena bisa menghemat kerepotan pengiriman air dari bumi ke bulan. Menurut pernyataan NASA, satu botol air di atas permukaan bulan bisa seharga 50.000 dollar AS (Rp 450.000.000). Itu merupakan biaya setiap pon untuk setiap peluncuran material dari bumi ke planet tetangga terdekat tersebut.

NASA menggunakan sebuah roket dengan bahan bakar yang terpakai habis dengan kecepatan 5.600 mil/jam menghunjam sebuah kawah bulan, kemudian menggunakan sepasang satelit melakukan analisa terhadap pecahan yang beterbangan. Akhirnya ditemukan di dalam kawah tersebut selain Hidrogen, amonia, metana, merkuri, natrium, perak dll sumber daya, terdapat pula air yang membeku menjadi es. (NASA) 

ULASAN TENTANG BULAN, SATELIT BUATAN MANUSIA: SIAPAKAH PENCIPTA REMBULAN?


Suku Maya pada beberapa ribu tahun silam ternyata mengukir punggung bulan di atas daun pintu kuil Bulan. Di dalam relief kuil dan prasasti Maya juga terukir seorang pemuda dengan mengenakan helm, sedang mengoperasikan sebuah mesin yang menyerupai pesawat antariksa. (ZHENGJIAN.NET)


Suku Maya pada beberapa ribu tahun silam ternyata mengukir punggung bulan di atas daun pintu kuil Bulan. Di dalam relief kuil dan prasasti Maya juga terukir seorang pemuda dengan mengenakan helm, sedang mengoperasikan sebuah mesin yang menyerupai pesawat antariksa. (ZHENGJIAN.NET)

“Kapan ada bulan purnama lagi? Biar arak bertanya kepada langit biru.” Sebuah pertanyaan pada Langit dimasa silam oleh Su Shi, pujangga China tersohor zaman Dinasti Song, nampaknya dilihat kembali pada saat ini bukanlah hal sepele. Pada Hari Raya Tiong-jiu 2010 (yang tahun ini jatuh pada 22 September 2010), orang-orang mendongak menerawang bulan, yang direnungkan barangkali bukan hanya kampung halaman saja.
Dalam alam semesta yang maha luas, bulan adalah benda langit yang paling dikenal akrab dengan umat manusia. Namun bulan yang kerap menjadi topik utama dalam banyak karya sastra kuno hingga zaman modern, melalui analisa dan penjelasan mendetail para ilmuwan, mereka menemukan pengetahuan umat manusia dewasa ini sangat terbatas, banyak teka-teki masih menanti untuk dicermati.
3 hipotesa tak terbukti
Berbicara mengenai asal-usul rembulan, selama ini ilmuwan beranggapan eksis 3 macam kemungkinan. Pertama, yang dinamakan teori penangkapan, yaitu bulan asalnya sebuah benda di langit, tatkala mendekati bumi, tertangkap bumi dan jadilah ia satelit bumi. Kedua, teori satu sumber. Di dalam proses evolusi sistem tata surya, alam semesta bagaikan segumpal kabut awan, dengan perlahan membeku menjadi sebuah bumi, pada tepiannya terbentuk sebuah bulan yang ikut berputar. Ketiga, disebut teori ledakan, atau teori perpecahan, dikatakan bumi tiba-tiba meledak, sebagiannya terlontar keluar terbentuklah bulan.
Dewasa ini ketiga macam hipotesa ini terbukti hampir tidak mungkin terjadi. Misalnya teori penangkapan bumi. Bulan yang memiliki diameter 27% dari bumi dengan mudahnya tersedot ke dalam orbit bumi, hal ini di mata ilmuwan astronomi merupakan fenomena yang sangat tidak mungkin terjadi. Apalagi sudut bulan saat memasuki orbit planet dibutuhkan kecermatan luar biasa, selisih sedikit saja tidak bisa. Begitu tidak hati-hati maka mudah ditangkap oleh bintang-bintang besar lain dalam sistem tata surya.
Meski bulan secara kebetulan dengan sudut yang begitu presisi memasuki lingkaran bumi dan bisa mengelilingi bumi juga seharusnya berbentuk elips, bukannya orbit bulan yang berbetuk bulat mulus itu.   
Kedua teori yang lain, teori satu sumber dan teori perpecahan, dilihat dari sudut pandang susunan materi, seharusnya komposisi dan struktur bulan dan bumi kurang lebih sama. Tetapi pesawat antariksa Apollo AS membawa serta banyak sampel dari bulan. Penelitian usia bebatuan bulan menunjukkan, dalam hal masa terbentuknya bulan agak lebih dahulu daripada bumi. Batuan di permukaan bulan yang paling kuno terbentuk pada 4,6 miliar tahun lalu (sebagian bebatuan berusia 7 miliar tahun), sedangkan waktu terbentuknya batuan yang paling tua di bumi kita hanyalah 3,9 miliar tahun. Terdapat 6 jenis elemen yang tidak dimiliki bumi, inilah yang tidak dijelaskan pada teori satu sumber dan teori perpecahan.
Meski ketiga macam hipotesa tentang terbentuknya bulan oleh alam tidak terbukti, maka bulan itu sesungguhnya berasal dari mana? Jangan-jangan ia dibuat manusia? Ketika pemikiran tidak biasa ini muncul di dalam alam pikir yang luas, banyak orang yang terkungkung konsep tradisional, langsung timbul emosi penolakan dari dalam hatinya. Akan tetapi, banyak ilmuwan pemberani sudah sesuai dengan bukti ilmiah beranggapan “bulan adalah buatan manusia”. 
Di bawah ini adalah ringkasan sederhana hasil investigasi bulan oleh para perintis iptek tersebut.
 
Bulan: Satelit yang “terlalu besar”
Mengenai ukuran bulan. Ilmuwan menemukan, bulan adalah sebuah benda langit yang abnormal, ia jauh lebih besar daripada satelit benda langit. Sejumlah planet dalam sistem tata surya ini memiliki satelit, ini fenomena alami yang sering terjadi. Namun bulan kita memiliki sebuah ukuran yang “tidak lumrah”, boleh dibilang sebagai sebuah satelit, volumenya apabila dibandingkan dengan induk planet yakni bumi, betul-betul terlalu besar. 
Silakan cermati data berikut: Diameter bumi 12.756 km, sedangkan diameter bulan 3.467 km, sekitar 27% dari diameter bumi. Diameter Mars 6.787 km, ia memiliki 2 satelit, yang lebih besar berdiameter 23 km, atau 0,34% dari Mars. Planet Jupiter berdiameter 142.800 km, mempunyai 13 buah satelit, yang paling besar berdiameter 5.000 km atau 3,5% dari planet Jupiter. Planet Saturnus berdiameter 120.000 km, ia mempunyai 23 buah satelit, yang terbesar berdiameter 4.500 km atau 3,75% dari planet Saturnus.
Satelit dari planet-planet lain, diameternya belum pernah melampaui 5% dari bintang induknya, namun bulan malah mencapai 27%. Ini menandakan bulan bukanlah sebuah benda langit yang biasa-biasa saja.  
Diameter bulan 1/395 diameter matahari, sedangkan rasio jarak bulan dengan bumi, dan dengan matahari adalah 1/395. Perbandingan yang sama itu menyebabkan dari atas permukaan bumi besar-kecilnya bulan dengan matahari terlihat persis sama. Fenomena ini dibahas dari sisi ilmu astronomi “tidak lazim”, minimal dengan planet lainnya di dalam sistem tata surya mutlak tak dapat ditemukan gejala serupa untuk kedua kalinya.
Menghadap Bumi dengan sisi yang sama
Membicarakan bulan, tak urung akan terpikir (bagi masyarakat tradisional Tionghoa) tekstur di permukaan bulan yang berbentuk seperti “gambar” kadang mirip figur orang, pohon atau hewan, sehingga lahirlah dongeng China kuno seperti Wu Gui Menebang Pohon dan Kelinci Meracik Jamu. Bulan selamanya berbentuk seperti itu, karena saat mengelilingi bumi ia senantiasa dengan sisi yang sama menghadap bumi.
Dari titik ini saja sudah sangat muskil. Dari sudut pandang ilmu astronomi, satelit yang sinkron harus melalui perhitungan yang sangat cermat dan tiada orang yang mengetahui bulan telah berapa lama mengelilingi bumi, apabila terjadi sedikit pergeseran saja, salah satu sisinya tidak mungkin selamanya menghadap bumi.
Umat manusia baru memperoleh gambaran rupa punggung bulan, setelah pesawat antariksa melakukan pemotretan. Mengapa bulan selalu dengan sisi yang sama menghadap bumi?
Ini disebabkan, dengan kecepatan rotasi 16,56 km/jam, di sisi lain ia juga berevolusi mengelilingi bumi. Aksial spin yang abnormal, dengan kecepatan sangat cepat, jauh lebih cepat dari kecepatan  yang seharusnya dimiliki planet sejenis dengan ukuran dan jarak yang sama. Waktu yang ia perlukan untuk berotasi satu putaran, “kebetulan” waktunya persis sama dengan revolusi satu kali putaran. Itulah mengapa bulan selalu menghadap bumi dengan sisi yang tetap.   
Dahulu ilmu astronomi memperkirakan punggung bulan tak berbeda banyak dengan sisi depannya, juga memiliki banyak kawah dan lautan lava. Namun dari foto-foto yang dikirim pesawat antariksa ternyata berbeda banyak. Punggung bulan meski terdapat banyak kawah dan lembah serta konturnya naik turun tidak beraturan, kebanyakan kawah kecil dan pegunungan, hanya terdapat sedikit lautan lava.
Perbedaan kedua sisi bulan tersebut, tak mampu dijawab oleh para ilmuwan. Secara logika, bulan merupakan benda langit alami di ruang hampa, dalam jangka waktu lama, mestinya kedua sisi tersebut berpeluang menerima hantaman meteorit yang seharusnya sama. Bagaimana bisa terdapat perbedaan pada sisi depan dan punggungnya? 
Yang lebih mengejutkan orang, beberapa ribu tahun lalu, Suku Maya ternyata mampu mengukir bentuk punggung bulan pada daun pintu Kuil Bulan guna menyembah dewa mereka. Apakah orang Maya pernah terbang ke ruang angkasa dan menyaksikan punggung bulan?
Bentuk orbit bulan bundar
Pada umumnya orbit satelit alami berbentuk elips, padahal orbit bulan berbentuk bundar (radius orbit itu 380.000 km), kita mengetahui, hanya orbit satelit buatan manusia yang berbentuk bundar. Jangan-jangan bulan hanyalah sebuah satelit raksasa ciptaan manusia?





Sisi bulan yang memunggungi bumi bopeng, tidak rata, dipenuhi dengan kawah kecil dan pegunungan. (WIKIPEDIA)
Bukti Bulan berongga
Ahli gempa bumi biasanya menggunakan getaran gempa untuk meneliti sifat bagian dalam bumi. Sama halnya, “getaran bulan” digunakan ilmuwan untuk meneliti sifat bagian dalam bulan.
Sejak 1969, dari Apollo-11 sampai Apollo-17, AS secara kontinu mengirim pesawat antariksa ke bulan untuk melakukan penelitian ilmiah. Mereka menggunakan permukaan bulan sebagai pangkalan, memasang seismograph dengan sensitivitas tinggi untuk mengirimkan data gempa bulan kembali ke bumi. Salah satunya dipasang astronot Apollo-11 di Laut Sunyi, satunya lagi dipasang Apollo-12 di Samudera Badai. Seismograph dengan sensitivitas tinggi tersebut bahkan bisa mencatat suara langkah kaki para astronot di atas bulan.
20 November 1969, pukul 4:15 Waktu Amerika Tengah, astronot Apollo-12 menggunakan bagian atas pendaratan bulan menumbuk permukaan bulan, dengan seketika telah terjadi gempa bulan. Bulan  “bergoyang” selama minimal 55 menit. Getaran itu dari kecil lambat laun menjadi besar, sampai ke tingkat tertinggi membutuhkan waktu sekitar 8 menit, lalu taraf getaran seolah berangsur melemah hingga akhirnya lenyap. Proses tersebut telah memakan waktu sekitar 1 jam, selain itu “sisa getaran yang mengema” lama tak kunjung hilang.
Morris, penanggung jawab biro penelitian gempa, dalam berita TV saat menyampaikan realita mengejutkan ini, berkata, “Hendak melukiskan secara gamblang getaran seperti itu, bagaikan menabuh lonceng besar gereja. Getaran gempa merembet ke sekeliling permukaan bulan dan tidak menyebar ke bagian dalam bulan, ini seperti terjadi pada benda logam bulat yang bagian tengahnya berongga.”
Fenomena semacam ini di atas bumi mutlak tidak mungkin terjadi. Ini sepenuhnya membuktikan bagian dalam bulan kosong, permukaannya selapis kerak.
Sesudah Apollo-12 mencipta “keajaiban”, astronot Apollo-13 dengan cara tanpa kabel menggunakan roket pesawat antariksa tingkat ke-3, memandunya menumbuk permukaan bulan. Lokasi yang dipilih sejauh 87 mil dari seismograph yang dipasang astronot Apollo-12. Setelah berlangsung selama 3 jam 20 menit, gempa bulan baru berangsur selesai. Kedalaman gempa bulan mencapai 22 mil sampai 25 mil.
Ilmuwan mengetahui, hanya bola yang tengahnya kosong baru bisa terjadi getaran dengan model semacam itu. Astronot Apollo-13 dan 14 juga melakukan percobaan gempa bulan selama beberapa kali, getaran permukaan bulan yang ditimbulkan getaran bulan terbesar bertahan selama 4 jam lebih.   
Reportase Apollo-16 dengan Permukaan Bulan dari NASA, membahas penelitian gempa bulan menjelaskan, pada bagian dalam kerak bulan eksis sebuah “lapisan keras” setebal 40 mil. Ilmuwan Dr. Von Braun mengatakan, kecepatan penyebaran getaran pada kedalaman 40 mil adalah 6 mil/detik, ini tak akan mampu dilakukan batu cadas. Jika kita periksa sejenak buku panduan fisika, sudah lantas tahu, suara dapat mencapai kecepatan penyebaran sedemikian cepat hanya terjadi pada logam atau batuan cadas bersifat logam.  
Kecepatan penyebaran getaran di bagian dalam bulan dan logam adalah sama, maka ilmuwan memprediksi bagian dalam bulan eksis sebuah benda kerak logam yang  berongga pada bagian tengahnya. Sedangkan lapisan batuan dengan ketebalan 10-20 mil menutupi dengan longgar di atas benda padat.
Dr. Ude mengatakan lapisan longgar ini terbentuk dalam kurun waktu beberapa ratus juta tahun, batu meteorit dan planet mini serta meteor berulangkali menumbuk keras permukaan bulan.