ULASAN TENTANG BULAN - SATELIT BUATAN MANUSIA : PERNAHKAH BULAN MENERANGI MANUSIA ZAMAN KUNO?




Pada 1968 Joseph Meister, ahli fosil amatir di Utah – AS, menemukan trilobite pada jejak sepatu yang pernah hidup di bumi pada 600 - 200 juta tahun yang lampau. (HENRY JOHNSON)




Pada 1968 Joseph Meister, ahli fosil amatir di Utah – AS, menemukan trilobite pada jejak sepatu yang pernah hidup di bumi pada 600 - 200 juta tahun yang lampau. (HENRY JOHNSON)
Bulan purnama bersinar di langit, waktu berlalu bagai air mengalir. Li Bai sastrawan China kuno yang tersohor menanyakan bulan kepada arak di dalam cawannya,  berkeluh kesah: “Manusia sekarang tidak melihat bulan zaman dahulu, rembulan sekarang pernah menerangi manusia masa lalu.” Lain lagi dengan Su Shi, sastrawan China kuno, yang menanyakan langit biru kepada araknya. Hatinya lantas tersentuh dan berujar:  “Tahukah menara pengintai di surga, sudah tahun ke berapakah malam ini?”.
Berbicara tentang rahasia paling besar di dunia, bukan surga, bukan pula bumi, melainkan “manusia” dari tiga elemen, “surga, bumi, manusia”. Asal usul manusia, sejarah manusia, masa depan manusia, itulah permasalahan utama yang seharusnya perlu kita perjelas. Bagaikan pencerahan para Nabi, siapakah saya, dari mana, hendak kemana.
Barangkali bulan itu masih saja rembulan yang lama, namun manusia saat ini bukan lagi manusia zaman dulu, umat manusia sudah berubah dan berganti masa hidup-mati yang tak terhingga.   
”Kehidupan umat manusia bukan hanya sekali ini saja.” Ini konsep terbaru para arkeolog modern. Meski sebagian besar masyarakat masih saja menganggap konsep ini mustahil bak kisah 1001 malam, namun setumpuk bukti arkeologi telah dengan mantap membuktikan sifat keilmiahan teori semacam itu.
Peradaban prasejarah
10 tahun lalu, para ilmuwan merasa risau. Menurut prinsip teori evolusi, umat manusia berasal dari makhluk bersel tunggal, kemudian berevolusi ke wujud manusia modern yang memiliki akal-budi yang akhirnya berkembang menjadi suatu peradaban. Hingga kini maksimal belum melewati 10.000 tahun. Berarti sebelum 10.000 tahun silam, sosok makhluk berakal-budi tidak eksis di planet kita, tidak mungkin mencipta benda “tak wajar” apapun. Akan tetapi yang menyiksa para ilmuwan ialah, mereka ternyata telah menemukan “monumen peradaban” yang berusia beberapa puluh ribu tahun bahkan dari era ratusan juta tahun silam. 
Seperti Bola Logam berusia 2,8 miliar tahun yang ditemukan di Afrika Selatan, reaktor nuklir skala besar berusia 2 miliar tahun lebih di Gabon, tapak kaki manusia di atas batu yang menginjak Trilobite pada beberapa ratus juta tahun yang silam dan lain-lain. Semua itu berupa produk peradaban yang berlainan era. Maka para ilmuwan telah mengajukan teori peradaban prasejarah berkali-kali. Mereka beranggapan, di atas bumi kita ini pernah eksis berkali-kali kehidupan umat manusia dan peradaban prasejarah.
Sejarah umat manusia persis seperti yang dimaksud oleh kebudayaan timur dengan konsep reinkarnasi sesudah mengalami perubahan berkala, yakni “tercipta, menetap, rusak, musnah”, lantas memasuki siklus perputaran “tercipta, menetap, rusak, musnah” berikutnya.      
Ilmu pengetahuan terkini menemukan, bumi yang kita tempati ini, pernah mengalami berkali-kali pemusnahan lokal berskala besar. Banyak hal telah menyebabkan pemusnahan, misalnya tumbukan antara bumi dengan meteorit sehingga menyebabkan musnahnya aneka ragam makhluk hidup era dinosaurus, banjir besar, gempa besar, timbul tenggelamnya plat kontinental, perubahan iklim mendadak dan lainnya. Di sebelah kontinental Eropa kini,  pernah eksis Eropa yang lebih maju yang pada akhirnya ditenggelamkan ke dasar lautan. 
Penyebab utama kalangan iptek pada dewasa ini tidak mau mengakui secara terbuka peradaban prasejarah ialah perselisihan antara ilmu pengetahuan empiris dengan agama. Mengakui peradaban prasejarah sama saja dengan mengakui legenda dan kejadian klasik yang terdapat di dalam agama adalah realitas. Itu kenyataan yang tak rela dihadapi para ateis. Mereka dengan tameng “metode pengujian tahun arkeologi apakah sudah tepat” ini untuk menolak topik penelitian ilmiah tersebut agar tidak lebih mengakar atau tersiar semakin luas ke masyarakat.

Kembali ke jati diri
Ada yang mengatakan, saya bukan ilmuwan. Bulan mau datang dari mana dan apakah tumbuhan memiliki perasaan, sama sekali saya tidak peduli. Segala persoalan itu ada kaitan apa dengan kehidupan saya sehari-hari?
Sebetulnya yang penulis diskusikan di sini bukan melulu sejumlah fenomena ilmu pengetahuan, melainkan hal itu sendiri memendam semacam inspirasi. Misalkan tumbuhan memiliki perasaan laiknya manusia dan andaikata 6 jalur reinkarnasi yang dimaksud di dalam agama tertentu benar adanya, misalkan saja bulan diciptakan oleh manusia pra sejarah, mengapa umat manusia kala itu lantas tersingkirkan? Siapa gerangan yang mengendalikan nasib manusia? Bagaimanakah diri sendiri baru bisa melompat keluar dari pusaran reinkarnasi “Tercipta, menetap, rusak, musnah”?
Ada yang berilustrasi kehidupan ini bagaikan gedung berlantai tiga. Penduduk lantai paling bawah kebanyakan mementingkan keduniawian. Saat zaman serba modern seperti ini, manusia terikat dengan kenikmatan fisik berlebihan yang diperoleh dari pengejaran peradaban konsumtifisme.
Manusia dengan kaki yang kuat rela tinggal di lantai-2, di sana mereka bisa melihat posisi lebih tinggi. Penduduk lantai-2 gabungan antara ilmuwan dan seniman. Mereka mengejar perolehan dari ranah spiritual, setiap menjumpai problema selalu bertanya mengapa.







Jejak sepatu setelah dibesarkan, seekor trilobite terlihat pada bagian atas kiri. (CREATION EVIDENCE MUSEUM)
Sedangkan yang tinggal di lantai tertinggi adalah penganut agama dan kultivator yang saleh. Rasa ingin tahu mereka pada setiap kejadian sangat besar. Mereka senantiasa ingin menemukan jawaban yang lebih mendalam dan mendasar dari wilayah jasmani dan rohani.    
Akan tetapi saat ini merupakan era yang istimewa. Tak peduli kita berada di belahan bumi yang mana, juga tak memandang perbedaan status sosial dan pengalaman hidup, pada suatu malam bulan purnama, atau pada suatu saat di kala sedang menyendiri, hati kita pasti serasa mendapatkan semacam seruan dan semacam panggilan untuk pulang.
Saat ini banyak orang ingin menetap di lantai-3, yang terpampang di hadapan mereka ialah horizon yang lebih luas dan jauh.

BULAN PLANET BUATAN MANUSIA






Debu bulan merupakan bahan lekat yang terdiri dari komponen kompleks, yang memancarkan sebuah aroma misterius. Foto: pada 20 Juli 1969 jejak astronot Apollo 11 ketika mendarat di bulan. (AFP/NASA)




Debu bulan merupakan bahan lekat yang terdiri dari komponen kompleks, yang memancarkan sebuah aroma misterius. Foto: pada 20 Juli 1969 jejak astronot Apollo 11 ketika mendarat di bulan. (AFP/NASA
“Di mata ilmuwan, bulan adalah “makhluk aneh yang serba kebetulan”. Ia aneh, dikarenakan di dalam ilmu astronomi tidak terdapat satelit yang bagaikan bulan dengan perbandingan proporsi volume luar biasa besar, juga tidak terdapat orbit satelit yang berbentuk bulat, kecuali satelit buatan manusia. Ia aneh, karena banyak data dari bulan yang “kebetulan pas” dengan sejumlah rancangan presisi. Misalnya: jarak matahari - bumi, 395 kali jarak bumi - bulan, sedangkan radius matahari “kebetulan” 395 kali radius bulan, sehingga bulan yang dilihat manusia di atas bumi pas sebesar matahari, itulah mengapa ada gerhana bulan total...”
Waktu yang dibutuhkan bulan untuk berputar sekali pada orbitnya juga “kebetulan” sama dengan waktu yang ia butuhkan untuk berevolusi mengelilingi bumi satu kali, maka itu bulan selamanya menghadap ke bumi dengan satu sisi yang sama. Bulan terletak di antara matahari dan bumi, kebetulan dengan sebuah derajat kemiringan tertentu, yang pada malam hari mampu memantulkan sinar matahari itu ke atas bumi untuk menerangi langit manusia di bumi.
Apakah semuanya itu kebetulan yang tidak disengaja? Di dalam mata penjelajah sesungguhnya, di dunia ini tidak ada kebetulan yang tanpa sebab, di balik kebetulan pasti terdapat sumber muasalnya.
20 November 1969, ketika astronot Apollo-12 menggunakan bagian pelontar dari kabin pendarat bulan untuk menubruk permukaan bulan, biro penelitian gempa bumi segera menyampaikan hasil yang mengejutkan yakni:
Ditilik dari getaran gempa, bulan merupakan sebuah benda bulat berbahan logam dengan rongga di tengahnya. Dari penemuan ilmiah ini disimpulkan: bulan adalah hasil ciptaan umat manusia pada zaman prasejarah.
Magnet rendah tanda tengah bulan kosong
Dalam jagad raya, setiap obyek alam semesta pasti memiliki medan magnet, dan melalui penelitian ditemukan, bulan nyaris tidak memiliki medan magnet. Para ilmuwan berasumsi medan magnet bumi berasal dari inti bumi yang terletak di kedalaman bumi.
Inti bumi terdiri atas inti dalam dan inti luar. Inti dalam merupakan zat padat, inti luar zat cair. Angka rekatnya (viskositas) sangat kecil. Ia dapat bergulir dengan cepat, menimbulkan arus induksi, sehingga menimbulkan medan magnet.
Kekuatan medan magnet bumi antara 0,35-0,7 Oersted (satuan ukuran magnet, diambil dari fisikawan Denmark Hans Christian Orsted, 1777-1851), dari sisa alami batu meteorit diperkirakan 0,59 Oersted, karena seluruh obyek alami seperti halnya bumi, bagian dalamnya berisi. Itulah mengapa mereka memiliki medan magnet.
Akan tetapi bulan sama sekali berbeda. Menurut sample bebatuan bulan yang ditambang oleh awak wahana antariksa Apollo, dan berdasarkan pengukuran langsung medan magnet permukaan bulan, taraf kekuatan medan magnet di sekeliling bulan tidak sampai 1/1000 dari kekuatan medan magnet bumi, bulan hampir tidak memiliki medan magnet. Dari situ bisa disimpulkan, bagian dalam bulan bukan seperti inti dalam bumi melainkan kosong. 










Percobaan gempa bulan membuktikan bagian tengah bulan adalah kosong. (NEW EPOCH WEEKLY)
Bukti Bulan berongga
Di dalam bukunya yang diterbitkan pada 1976, ilmuwan NASA L.Richard Lewis menulis, kepadatan (densitas) sample batu dari permukaan bulan yang dibawa astronot Apollo-11 dan 12, jika dibandingkan dengan densitas batu di bumi jauh lebih besar. Densitas batu bulan antara 3,2 - 3,4 gram/cm³, densitas batu bumi hanya antara 2,7 - 2,8 gram/cm³.
Akan tetapi, densitas rata-rata bulan 3,33 gr/cm³, sedangkan densitas bumi 5,5 gr/ cm³, nyaris berbeda separuh. Ilmuwan Dr. Harrods Yuri beranggapan hal ini lantaran “titik berat” bulan adalah kosong. Dr. Calkins dari Royal Astronomical Society  - Inggris, di dalam bukunya “Bulan kita” beranggapan, di dalam bulan terdapat lubang kosong dengan volume 14 juta mil³.  
Dr. Solomon dari Massachusetts Institute of Technology melakukan penelitian terhadap titik berat bulan, ia juga menyinggung bagian dalam bulan kemungkinan kosong. Di dalam majalah penelitian berskala internasional Moon, ia menulis: “Sesuai pengamatan ‘alat perputaran orbit bulan’, kami memperoleh wawasan luas berkaitan dengan bulan, terutama di dalam bidang yang berkaitan dengan gaya berat. Bisa juga dikatakan, bagian dalam bulan ada kemungkinan kosong.” 
Selapis kerak sangat keras
Ilmuwan mengatakan, kawah di permukaan bulan terbentuk oleh benturan batu meteorit dan komet. Di bumi juga terdapat sejumlah kawah (meteorit). Penelitian menunjukkan, jika sebuah meteorit dengan radius beberapa mil dengan kecepatan 30.000 mil/detik (setara dengan kekuatan 1 juta ton TNT) menubruk bumi atau bulan, kedalaman yang ditimbulkannya seharusnya 4-5 kali lipat radius. Kawah di bumi selalu demikian.
Namun kawah di bulan aneh bin ajaib, seluruh kawah ternyata “sangat dangkal”. Misalnya Kawah Gagarin yakni kawah terdalam di permukaan bulan, hanya sedalam 4 mil. Padahal radiusnya selebar 186 mil. Dari estimasi ilmiah, terlihat jelas apabila dengan radius 186 mil, kedalamannya minimal seharusnya 700 mil, namun realitanya kedalaman Kawah Gagarin hanyalah 12% dari radius meteorit.  
Mengapa bisa demikian?
Para ilmuwan tak mampu menjelaskan fenomena itu, juga tidak melakukan penjelasan, karena mereka di dalam hatinya tahu, begitu dijelaskan maka bisa menggulingkan semua wawasan tentang bulan yang sudah terbentuk.
Para ilmuwan hanya bisa beranggapan, pada kedalaman 4 mil dari permukaan bulan terdapat satu lapis struktur materi yang sangat keras yang tak mampu ditembus meteorit, itulah sebabnya, seluruh kawah sangat dangkal. Maka apakah selapis struktur materi  sangat keras itu? Mengapa bumi atau obyek bulat alami lainnya tidak memiliki materi keras seperti itu? Jangan-jangan itu merupakan kerak luar berbahan logam.  
Tidak mungkin alami eksis
Pada kawah bulan terdapat banyak sekali lahar, ini tidak aneh. Yang ajaib, lahar tersebut mengandung sangat banyak elemen logam langka di bumi seperti: titanium, kromium, itrium dan lain-lain. Logam-logam tersebut semuanya sangat keras, tahan suhu tinggi dan anti karat.
Para ilmuwan memprediksi, jika hendak melebur elemen logam tersebut, minimal harus dengan suhu di atas 2.000° atau 3.000° C. Akan tetapi bulan merupakan sebuah “planet sunyi dan mati” di angkasa, minimal selama 3 miliar tahun ini tidak ada kegiatan gunung berapi. Oleh karena itu di atas bulan bagaimana bisa menghasilkan banyak elemen logam yang membutuhkan temperatur tinggi?
Selain itu, setelah para astronot membawa pulang tanah dan bebatuan bulan sebanyak 380 kg, ternyata ditemukan mengandung besi murni dan titanium murni, yang di alam bebas logam murni tersebut tak bisa terbentuk.
Di alam bebas, logam kebanyakan eksis dalam bentuk oksida dan senyawa lainnya, sedangkan yang eksis dalam bentuk logam murni sangatlah jarang, pada umumnya membutuhkan teknik peleburan canggih barulah logam bisa dijadikan molekul tunggal. Maka, siapa gerangan yang telah merafinat (memurnikan) logam-logam tersebut?
Aroma asap mesiu 
Pada 2006, situs NASA mengungkap tanah bulan kelihatan sama normalnya dengan tanah di bumi, tetapi ia bukanlah sesederhana seperti wujudnya. Penelitian astronot membuktikan, debu bulan terbentuk dari banyak macam materi rumit yang bersifat melekat dan memancarkan aroma misterius. Namun beberapa puluh tahun ini, ilmuwan belum juga mengungkap teka-teki aroma yang dipancarkan debu bulan.
Setiap astronot Apollo pasti pernah mencium aroma debu bulan. Mereka tidak mungkin mendekatkan wajahnya ke permukaan bulan. Akan tetapi setiap kali selesai melakukan perjalanan dari bulan, mereka meletakkan debu bulan di dalam kendaraan pendarat. Debu bulan berupa semacam bahan berdaya rekat.  bisa melekat di sepatu, sapu tangan dan semua permukaan benda yang terbuka.
Sebelum kembali memasuki kapsul pendarat bulan, bagaimanapun para astronot dengan kuat mengibaskan debu dari baju mereka, ia masih saja bisa menyelinap ke dalam kabin. Begitu astronot melepas helm dan sarung tangan, mereka lantas mencium “aroma bulan” yang membingungkan. 
Gene Cernan, astronot Apollo-17 sewaktu membahas debu bulan mengatakan, “Saya sungguh ingin memberitahu Anda sebuah hal yang mengejutkan, mereka memancarkan semacam aroma asap mesiu!” 
Charlie Duke, astronot Apollo-16 mengatakan, “Debu bulan memiliki semacam aroma keras. Saya rasa baunya seperti peluru yang telah ditembakkan.” Jack Schmidt, astronot Apollo-17 mengatakan, “Semua astronot Apollo pernah menembakkan senapan. Maka, ketika mereka membicarakan aroma debu bulan tercium bagai bau mesiu yang ditembakkan, mereka sadar akan kata yang diucapkan.”
Namun yang mengherankan ialah begitu dibawa ke bumi, debu bulan tidak membawa lagi aroma tersebut. Lunar Receiving Laboratory  Johnson Space Center NASA memiliki ratusan kilogram debu bulan. Di sana, ilmuwan menyatakan aroma misterius bulan tersebut sudah sirna.
Jelas, debu bulan dan mesiu bukan satu hal yang sama. Mesiu modern tanpa asap, terbuat dari campuran nitroselulosa dan nitrogliserin. Dalam debu bulan tidak ditemukan bahan organik yang mudah terbakar. Dibakar dengan korek api tidak akan terjadi ledak-an. Maka sebetulnya terbuat dari bahan apakah debu bulan itu?
Realitanya, hampir separuh debu bulan merupakan silika vitreous yang ditimbulkan meteorit ketika menumbuk bulan. Tumbukan tersebut telah berlangsung selama 1 miliar tahun, tanah permukaan telah berubah menjadi silika, bahan yang sama terurai menjadi pecahan. Disamping itu, zat besi, kalsium dan magnesium dari bahan mineral seperti olivin dan piroksen juga kaya debu bulan. Ia sama sekali berbeda dengan mesiu, hingga kini para ilmuwan masih belum mengetahui bagaimana aroma seperti itu timbul. Barangkali suatu hari nanti para ilmuwan bisa menemukan jawabannya dari bulan buatan manusia yang unik tersebut.
Menara misterius
4 Februari 1966, setelah pesawat luar angkasa tak berawak Luna – 9  milik Uni Soviet melakukan  pendaratan di Oceanus Procellarum (Ocean of Storms, sebuah lokasi tepi barat bulan, pada sisi yang berdekatan dengan bumi), telah menjepret dua deret struktur benda berbentuk menara dengan jarak sama.
Dr. Ivanov mengatakan, “Mereka dapat membentuk pantulan cahaya matahari yang keras, mirip dengan tanda di sebelah “landasan pacu”. Dr. Ivanov menghitung berdasarkan panjang bayangan tersebut kira-kira setinggi gedung 15 lantai. Ia menambahkan, “Di sekitar situ tidak terdapat dataran tinggi yang bisa menggelindingkan batu karang ke tempat sekarang yang dapat membentuk deretan geometris.” 
20 November 1966, di atas angkasa berjarak 46 km dari  “Lautan Hening” pesawat pengintai US Track II berhasil memotret beberapa struktur benda berbentuk piramida, ilmuwan memprediksi ketinggiannya antara 15-25 meter, juga dengan bentuk deret geometris, selain itu warnanya lebih pudar daripada tanah dan batu karang di sekelilingnya, jelas bukan benda alami.
Apabila struktur benda berbentuk menara yang dapat memantulkan sinar matahari itu dibuat oleh manusia zaman pra sejarah, maka apakah tujuannya?
Gunung berbentuk cincin di permukaan bulan seolah mencatat rahasia kecerdasan khusus. Di dalam proses pelaksanaan perencanaan pendaratan Apollo di bulan, astronot pernah menjepret gunung berbentuk cincin di permukaan bulan. Foto tersebut mengungkap sebuah informasi mengejutkan, di atas gunung cincin tersebut jelas terdapat bekas perubahan sintetis (bukan alami).
Misalnya di bagian dalam gunung gelang itu terdapat sebuah sudut siku yang rapi dengan masing-masing sisi sepanjang 25 km, bersamaan itu di atas tanah dan dinding gunung berbentuk cincin tersebut juga terdapat tanda-tanda bekas perbaikan.    
Sinyal Bulan
Yang membuat para ilmuwan terperanjat, bulan itu tidak bisu. Ia dapat mengirim sinyal. Pada misi penerbangan Apollo-15,  Scott dan Michael Owen sekali lagi menginjakkan kaki di tanah bulan.  Petugas penghubung di atas bumi sangat terkejut mendengar sebuah suara peluit panjang (juga terekam oleh alat perekam).
Seiring dengan perubahan nada di dalam suara peluit itu telah terdengar sebuah “kata” yang diulang-ulang dan terdiri atas 20 huruf. Bahasa asing yang berasal dari bulan itu telah memutus hubungan komunikasi astronot dengan Houston. Kasus ini hingga kini merupakan teka-teki yang belum terungkap.
Apa tujuan Bulan dibuat?
Dari realita tersebut di atas bisa disimpulkan: bulan adalah ciptaan umat manusia dahulu kala. Mengenai bagaimana wujud umat manusia masa silam tersebut, akan kita bahas pada serial berikut.
Manusia zaman sekarang telah meluncurkan banyak satelit, sebagian besar dimanfaatkan untuk kegunaan khusus seperti komunikasi, ramalan cuaca, pengukuran dan lain-lain, dari situ bisa dianalogkan, jika tingkat iptek umat manusia terdahulu lebih maju, dalam hal mencipta satelit berukuran raksasa juga bukan hal yang mustahil lagi.  
Maka untuk apa ada bulan? Ilmuwan Rusia pernah memikirkan mencipta sebidang cermin di ruang angkasa dan menggunakannya untuk memantulkan sinar matahari ke atas bumi agar memberikan cahaya malam hari kepada bumi.
4 Februari 1999, dua astronot dari stasiun ruang angkasa MIR - Rusia melepas bulan buatan secara eksperimensial ke luar angkasa, namun dibandingkan dengan bulan volumenya sangat-sangat kecil dan tidak berarti.

DITEMUKAN PLANET DARI LUAR GALAKSI


Gambar rekaan artis ini menunjukkan planer HIP 13044 b, sebuah exoplanet yang mengorbit bintang yang memasuki galaksi Bima Sakti kita, dari galaksi lain. Planet yang berasal dari galaksi lain ini ditemukan oleh sekelompok ilmuwan eropa dengan memakai teleskop MPG/ESO beruukuran 2.2 meter di observatorium La Silla, Chili. (ESO/L. Calçada)


Gambar rekaan artis ini menunjukkan planer HIP 13044 b, sebuah exoplanet yang mengorbit bintang yang memasuki galaksi Bima Sakti kita, dari galaksi lain. Planet yang berasal dari galaksi lain ini ditemukan oleh sekelompok ilmuwan eropa dengan memakai teleskop MPG/ESO beruukuran 2.2 meter di observatorium La Silla, Chili. (ESO/L. Calçada)
Selama lebih dari 15 tahun terakhir, para astronom telah menemukan sedikitnya 500 planet yang mengorbit bintang-bintang pada galaksi kita. Namun, tak satu pun planet dari luar galaksi kita pernah ditemukan.
Sekarang, sebuah planet dengan massa minimum 1.25 kali Jupiter telah ditemukan mengorbit bintang yang berasal dari luar galaksi kita, meski sekarang bintang telah menemukan tempatnya dalam galaksi kita. Hal itu dikenal sebagai Helmi stream – sekelompok bintang yang aslinya berasal dari sebuah galaksi kecil yang tertarik ke dalam galaksi kita, dalam bentuk seperti kanibalisme galaksi sekitar enam sampai sembilan miliar tahun lalu.
“Penemuan ini sangat menarik”, kata Rainer Klement dari Max-Planck-Institut für Astronomie (MPIA), yang bertanggung jawab dalam pemilihan target bintang untuk penelitian ini. “Untuk pertamakalinya, para astronom berhasil mendeteksi sebuah sistem planet yang berasal dari luar galaksi kita. Karena jarak yang luar biasa besarnya, belum pernah ada konfirmasi sebelumnya mengenai penemuan planet dari luar galaksi. Namun, berkat adanya “kanibalisme galaksi” ini, planet yang tadinya jauh di luar galaksi kita kini bisa berada dalam jangkuan.”
Bintang yang dikenal dengan nama HIP -13044 ini terletak sekitar 2.000 tahun cahaya dari Bumi pada arah selatan konstelasi Fornax. Para astronom dapat mendeteksi planet yang sekarang diberi nama HIP-13044 b ini lewat adanya “goyangan” kecil pada bintang yang biasanya disebabkan oleh karena tarikan dari planet yang mengorbit cukup dekat. Untuk pengamatan yang lebih presisi, mereka menggunakan teleskop MPG/ESO berdiameter 2.2 meter yang dibopong oleh observatorium La Silla di Chile.
HIP 13044 b juga merupakan satu dari sedikit exoplanet yang diketahui dapat bertahan setelah melalui periode ketika bintangnya berubah menjadi raksasa merah karena kehabisan bahan bakar utamanya yaitu hidrogen. Saat ini, bintang itu kembali menyusut karena membakar helium di intinya.
“Penemuan ini merupakan bagian dari penelitian untuk mencari exoplanet yang mengorbit pada bintang yang mendekati akhir hayatnya,” kata Johny Setiawan, yang juga dari MPIA, yang memimpin penelitian. “Penemuan ini memiliki bagian yang menarik karena pada akhirnya, takdir kita akan mirip dengan planet ini, tertelan oleh Matahari yang berubah menjadi raksasa merah paling tidak dalam 5 miliar tahun ke depan.”
HIP 13044 b mengorbit dalam jarak yang dekat dengan bintangnya. Titik terdekatnya sekitar 0.055 kali jarak Bumi ke Matahari, dan menyelesaikan orbit dalam waktu 16.2 hari. Setiawan dan timnya menduga bahwa awalnya jarak dari planet ke bintangnya cukup jauh. Namun karena bintang itu memasuki fase merah raksasa, maka jaraknya jadi menyusut seperti sekarang.
Meski HIP 13044 b selamat dalam melewati periode raksasa merah, namun pada akhirnya, bintang itu akan membesar sekali lagi pada fase berikutnya dan tampaknya akan tertelan. Nasib sama yang akan terjadi pada Bumi kita ketika Matahari membesar sampai mencapai orbit Jupiter kelak.
Bintang itu sendiri juga memunculkan suatu pertanyaan menarik tentang bagaimana planet raksasa terbentuk, ketika tampaknya hanya berisi sedikit elemen yang lebih berat dari hidrogen dan helium. Jauh lebih sedikit dari bintang lain yang diketahui memiliki sistem planet sendiri. “Hal itu merupakan teka-teki untuk model pembentukan planet yang sudah diketahui selama ini. Bagaimana menjelaskan bintang yang tidak memiliki elemen berat lainnya bisa membentuk planet. Planet yang terbentuk di sekitar bintang seperti ini pasti terbentuk dengan cara lain yang belum diketahui.” tambah Setiawan.

MATAHARI TANPA BINTIK : TAHUN PALING KOSONG DALAM ABAD LUAR ANGKASA





Kiri: Solar Flare. Kanan: Solar Flare yang menyembul keluar dengan ukuran Bumi sebagai perbandingan. (WIKIPEDIA)



Astronom yang menghitung bintik matahari mengumumkan 2008 sebagai “tahun paling sepi” dalam abad luar angkasa.
Terhitung sejak 27 September 2008, permukaan matahari terlihat kosong, tidak ada bintik yang terlihat selama 200 hari dalam tahun tersebut. Untuk menemukan tahun dimana lebih banyak matahari yang kosong, kita harus kembali ke 1954, 3 tahun sebelum diluncurkannya Sputnik (satelit pertama buatan manusia), di mana matahari terlihat kosong sebanyak 241 kali.
“Bintik matahari yang terhitung merupakan yang terendah selama 50 tahun terakhir ini,” kata fisikawan surya NASA Marshall Space Flight Center David Hathaway. “Kita sedang mengalami siklus solar minimum.”
Citra yang diambil oleh Solar and Heliospheric Observatory (SOHO)  pada 27 September 2008 memperlihatkan cakram matahari yang benar-benar bebas dari bintik matahari. Sebagai perbanding-an, dalam citra yang diambil oleh SOHO pada 27 September 2001 menunjukkan permukaan matahari ditaburi oleh bintik-bintik matahari kolosal dengan solar flare keluar di setiap celah-celahnya. Perbedaan ini merupakan siklus 11 tahunan. 2001 merupakan tahun solar maksimum ditandai dengan banyaknya bintik matahari, solar flares, dan badai geomaknetik.
Hathaway mengingatkan bahwa perkembangan baru ini bisa jadi lebih menarik daripada yang sekarang terlihat: “Meskipun tahun 2008 merupakan tahun paling tenang, namun hal itu masih belum apa-apa dibandingkan dengan tahun solar minimum terpanjang di akhir abad-19 dan awal abad-20.” Pada abad itu, terdapat 200 - 300 hari dimana tidak ada bintik matahari yang dilaporkan per tahun.
Beberapa fisikawan surya menjadi terlelap.
“Peristiwa ini memberikan kita kesempatan untuk mempelajari matahari tanpa harus terganggu oleh bintik matahari,” ujar Dean Pesnell dari Goddard Space Flight Center. “Saat ini kita memiliki peralatan terbaik dalam sejarah untuk meng-amati matahari. Terdapat banyak sekali armada tak berpenumpang yang khusus didesain untuk fisika surya — SOHO, Hinode, ACE, STEREO, dan beberapa lainnya. Kita menjadi terikat untuk mempelajari hal baru selama periode solar minimum yang panjang ini.”
Sebagai contoh, ia menjelaskan tentang helioseismologi: “Dengan memonitoring permukaan matahari yang bergetar, para ahli helioseismologi bisa menggali bagian interior matahari dengan cara yang sama ketika para geologis memakai gempa bumi sebagai media untuk mempelajari bagian interior Bumi. Dengan hilangnya bintik matahari, kami mendapatkan pandangan yang lebih baik mengenai angin dibawah permukaan matahari dan dinamo magnetik bagian dalam matahari.”
“Akan tetapi ada suatu hal yang terjadi mengenai radiasi matahari,” tambah Pesnell. “Para peneliti sekarang sedang melihat matahari sebagai matahari paling redup dalam catatan. Perubahan ini kecil, hanya sekian persen, namun signifikan. Pertanyaan tentang apa efek dari redupnya matahari jika berlangsung terus menerus terhadap iklim masih belum terjawab.”
Pesnell merupakan ilmwan proyek Solar Dynamics Observatory (SDO) milik NASA, sebuah pesawat nir-awak yang dilengkapi dengan instrumen untuk mempelajari radiasi dan gelombang helioseismik. Pembangunannya telah selesai dan telah melewati uji getaran pasca peluncuran serta uji thermal. “Kami sudah siap meluncur! Solar minimum merupakan saat yang paling tepat untuk berangkat.”
Secara kebetulan, satelit Ulysses menemukan bahwa permukaan matahari yang kosong ini juga menghasilkan tekanan angin terendah dalam catatan 50 tahun terakhir. Tekanan ini mulai menurun sejak setahun sebelum masuknya periode minimum, jadi masih belum diketahui secara pasti bagaimana kedua fenomena ini berkaitan. Hal ini merupakan suatu misteri lain yang harus diungkap oleh SDO dan misi-misi lainnya.
Siapa yang menduga bahwa matahari yang kosong justru membuatnya makin menarik?

SINAR MATAHARI LINDUNGI DARI MS



Gejala utama penderita MS. (WIKIPEDIA)

Gejala utama penderita MS. (WIKIPEDIA)

Multiple Sclerosis (MS) tergolong penyimpangan sistem saraf. Secara mendasar, MS adalah penurunan selubung lemak yang mengelilingi jaringan saraf dalam otak dan dapat ditunjukkan dalam sejumlah cara baik ketidakmampuan fisik maupun fungsi otak yang tidak seimbang.
Telah diketahui bahwa populasi yang jauh dari khatulistiwa memiliki risiko lebih besar menderita MS dibanding mereka yang tinggal di dekat khatulistiwa. Observasi ini kemudian mengarah pada penelitian mengenai peranan vitamin D dan sinar matahari dalam melindungi MS.
Diyakini bahwa MS termasuk dalam penyakit autoimun, yakni disebabkan oleh reaksi sistem kekebalan tubuh menghadapi jaringan tubuhnya sendiri (dalam hal ini, selubung myelin).
Bukti yang dipublikasikan Journal of Cellular Biochemistry edisi Juli 2008 menunjukkan bahwa vitamin D memiliki kemampuan untuk mengatur sistem kekebalan tubuh dengan cara menurunkan kecenderungan terhadap autoimunitas.
Namun demikian, bukti baru telah mengungkap bahwa paling tidak sebagian kemampuan sinar matahari untuk melindungi tubuh dari MS tidak berasal dari vitamin D.
Studi yang dipublikasikan Proceedings of the National Academy of Sciences edisi Maret 2010 menggunakan model binatang penderita MS yang dikenal dengan experimental autoimmune encephalomy-elitis (EAE). Dalam studi ini, binatang penderita MS dihadapkan pada sinar ultraviolet, yang mengarah pada pengurangan dramatis terhadap aktivitas penyakit.
Namun demikian, sinar ultraviolet hanya membuat kenaikan tingkat vitamin D yang bersifat sementara dan kecil pada binatang. Besar dan lamanya peningkatan ini tidak cukup untuk diperhitungkan sebagai manfaat yang pantas dipertimbangkan oleh UV.
Peneliti studi ini menyimpulkan, “Hasil ini menunjukkan bahwa UVR (radiasi Ultraviolet) mungkin menekan produksi vitamin D independen, dan vitamin D itu sendiri tidak diperbolehkan menggantikan kemampuan cahaya matahari untuk mengurangi kerentanan MS."
Mari kita ingat bahwa ini adalah model binatang penderita MS dan hanya satu eksperimen. Namun demikian, ini membuka kemungkinan bahwa sebagian, atau beberapa sinar matahari memiliki spektrum manfaat untuk tubuh tidak disediakan oleh vitamin D, namun dari lainnya, mekanisme pemahaman yang buruk.
Secara pribadi, saya akan melanjutkan asupan suplemen vitamin D. Namun saya juga akan berusaha mendapatkan sinar matahari sebanyak mungkin (tanpa kulit terbakar).